Beranda | Artikel
Iman kepada Kitab Allah: Ketika Wahyu Menjadi Penentu Arah
8 jam lalu

Menempatkan petunjuk Allah di atas derasnya opini, tren, dan pembenaran diri.

Kita tidak kekurangan informasi. Dalam beberapa menit, seseorang dapat menemukan ratusan penjelasan tentang satu masalah. Namun, banyaknya jawaban tidak selalu membuat arah menjadi lebih jelas. Tidak jarang, orang justru terus mencari sampai menemukan pendapat yang paling sesuai dengan keinginannya. Pertanyaannya bukan lagi, “Apa yang benar?” melainkan, “Mana yang membenarkan pilihan saya?”

Di tengah derasnya opini, iman kepada kitab-kitab Allah memberi seorang mukmin ukuran yang kokoh. Allah tidak membiarkan manusia berjalan hanya dengan akal, pengalaman, dan selera yang terbatas. Dia menurunkan wahyu sebagai petunjuk, rahmat, dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Beriman kepada kitab berarti menerima petunjuk Allah

Iman kepada kitab-kitab Allah mencakup beberapa perkara. Kita meyakini bahwa kitab-kitab tersebut benar-benar diturunkan oleh Allah. Kita mengimani kitab yang diketahui namanya, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an, serta mengimani kitab lain yang tidak diketahui namanya secara umum. Kita membenarkan berita yang sahih darinya. Kita juga menerima hukum yang berlaku bagi kita dengan rida dan tunduk.

Terhadap kitab-kitab terdahulu yang beredar sekarang, ukuran kebenarannya adalah wahyu yang terjaga. Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang membenarkan pokok kebenaran kitab-kitab sebelumnya sekaligus menjadi hakim atasnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul terakhir bagi seluruh manusia, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia hingga hari kiamat. Kitab-kitab sebelumnya diturunkan kepada umat tertentu sesuai dengan keadaan mereka; sedangkan Al-Qur’an datang dengan syariat yang sempurna dan sesuai bagi seluruh zaman dan tempat.

Al-Qur’an bukan sekadar simbol kesalehan

Mushaf dapat diletakkan di tempat yang tinggi, bacaan juga dapat dilantunkan dengan indah. Semua bentuk penghormatan itu baik apabila dilakukan dengan benar. Namun, tujuan diturunkannya Al-Qur’an tidak berhenti pada penghormatan lahiriah. Allah menyebutnya sebagai petunjuk,

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Petunjuk berfungsi ketika diikuti. Oleh karena itu, hubungan yang benar dengan Al-Qur’an mencakup membaca, memahami, membenarkan, dan mengamalkan. Seseorang belum mengambil petunjuk secara utuh apabila ia hanya membaca ayat yang menenangkan, tetapi menolak ayat yang mengoreksi kebiasaan, transaksi, pergaulan, atau keinginannya.

Iman kepada kitab Allah juga meluruskan cara kita mencari jawaban. Seorang mukmin tidak memotong dalil untuk memenangkan pilihan yang telah ditetapkan sejak awal. Ia berusaha memahami petunjuk secara utuh, merujuk kepada penjelasan ulama yang terpercaya, dan bersedia mengubah sikap ketika mengetahui bahwa keinginannya tidak sejalan dengan wahyu.

Sikap tunduk tidak berarti tergesa-gesa menyimpulkan hukum hanya dari terjemahan satu ayat. Al-Qur’an dijelaskan oleh As-Sunah, ayat-ayatnya saling menerangkan, dan para ulama membantu memahami bahasa, konteks, serta cara menggabungkan dalil. Kesungguhan mengikuti wahyu juga tampak pada kerendahan hati untuk belajar. Seseorang tidak menjadikan keterbatasan pemahamannya sebagai alasan menolak petunjuk, tetapi juga tidak mengatasnamakan Al-Qur’an untuk pendapat yang belum ia pahami dengan benar.

Wahyu tidak meniadakan ilmu dan keahlian

Menjadikan wahyu sebagai penentu arah bukan berarti mengabaikan pengetahuan manusia. Dalam urusan teknis, kita tetap membutuhkan dokter, insinyur, pendidik, ahli keuangan, dan orang-orang yang memahami bidangnya. Pengalaman dan penelitian dapat membantu memilih cara yang paling efektif. Namun, wahyu menetapkan batas halal dan haram, tujuan hidup, serta nilai yang tidak boleh ditukar hanya karena sebuah cara dianggap lebih cepat atau lebih populer.

Akal adalah nikmat besar, tetapi kemampuannya terbatas. Manusia dapat mengetahui sebagian manfaat dan bahaya, sedangkan pengetahuannya tentang akibat jangka panjang, keadaan hati, dan kehidupan setelah kematian sangat terbatas. Diturunkannya kitab-kitab Allah menunjukkan rahmat-Nya: manusia tidak dibiarkan menebak sendiri jalan keselamatan.

Rahmat tersebut juga terlihat dari kesesuaian syariat dengan umat yang menerimanya. Pokok agama para rasul sama, yaitu tauhid; sedangkan sebagian rincian syariat dapat berbeda sesuai hikmah Allah. Al-Qur’an sebagai kitab terakhir membawa petunjuk yang berlaku hingga hari kiamat. Perubahan zaman tidak menjadikan manusia bebas mengganti ukuran kebenaran, tetapi mendorong mereka untuk mempelajari bagaimana petunjuk yang tetap diterapkan secara benar pada keadaan yang berubah.

Seorang mukmin tidak gelisah hanya karena ajaran wahyu tidak selalu mengikuti arus. Tren berubah, istilah berganti, dan pendapat yang dipuji hari ini dapat ditinggalkan besok. Wahyu memberi titik pijak yang tidak bergerak bersama tekanan sosial. Dari titik itulah manusia menilai perkembangan, mengambil manfaatnya, dan menolak bagian yang menyelisihi petunjuk Allah.

Berhenti mencari pembenaran

Di hadapan wahyu, pertanyaan yang sehat bukan hanya, “Apakah ada pendapat yang membolehkan keinginan saya?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Apa yang Allah tunjukkan, dan bagaimana saya dapat tunduk kepada-Nya?” Terkadang jawabannya sesuai dengan keinginan; terkadang ia menuntut kita meninggalkan sesuatu yang dicintai. Justru pada saat itulah ketundukan diuji. Iman kepada kitab Allah menjadikan wahyu bukan hanya sesuatu yang kita hormati, tetapi petunjuk yang menentukan arah langkah kita.

Baca juga:

***

Penulis: Mochammad Wibisono

Artikel Muslim.or.id

 

Referensi:

Disarikan dari: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh ‘Aqidah Ahl as-Sunnah wal Jama‘ah, Mu’assasah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyyah, cet. 1, 1427 H, hal. 328–344 dan 493–497.


Artikel asli: https://muslim.or.id/116053-iman-kepada-kitab-allah-ketika-wahyu-menjadi-penentu-arah.html